Misa di salah satu Gereja di Indonesia Di masa lalu saya sering menghadiri perayaan ekaristi di berbagai Gereja dengan duduk di antara umat, tanpa berkonselebrasi. Saya biasa melakukannya di Medan dan di Jakarta . Dalam perayaan-perayaan tsb. kadang saya merasa kasihan dengan umat, karena perayaan liturgi begitu kering , dan imam yang selebran juga terkesan hanya sekedar menunaikan tugas. Lagu liturgi yang dinyanyikan sering dibawakan setengah hati atau seperti takut-takut, sehingga tidak menolong mengangkat hati kepada Yang Ilahi. Bukan karena lagunya tidak cocok atau tidak bagus, melainkan karena dukungan untuk itu kurang, mis. musik pengiring (organ) dan dirigen tidak membantu menciptakan suasana untuk itu. Dalam situasi seperti itu saya biasanya sedih . Bukankah liturgi kita begitu indah dan kaya ? Mengapa para petugas, termasuk imam selebran, tidak mampu menyelenggarakannya sedemikian sehingga menjadi satu perayaan yang khidmat dan mengangkat hati ? Tak heran banyak umat ...