Langsung ke konten utama

Di Computex 2011 raksasa Intel bak kerdil di teknologi tablet

Intel ketinggalan kereta?

Minggu ini pameran teknologi Computex 2011 lagi bergelegar di Taiwan. Dan akhirnya Intel menunjukkan prosesor terbarunya Oak Trail, yang diharapkan menjadi hati dan otak tablet dan smartphone yang sedang merajai dunia.

Ya, Intel seperti ketinggalan kereta dalam hal teknologi mobile. Di dalam tablet dan smartphone, yang sedang menggeser peran komputer PC di segala bidang, tak ada prosesor dari Intel melainkan dari ARM. Mengapa?

Di masa lalu Intel sudah terlalu terbiasa dengan Microsoft dengan konsentrasi ke PC, sehingga nyaris melalaikan peralatan mobile seperti handphone pintar dan tablet.

Coba bayangkan, para pemakai komputer PC sudah terbiasa dengan mati lampu mati komputer. Bahkan laptop yang berjalan dengan prosesor Intel hanya bisa bertahan beberapa jam saja.

Sementara itu ARM mengembangkan prosesor yang sangat hemat daya. Karena sedemikian hemat daya, maka peralatan elektronik tahan dua hari atau bahkan lebih tanpa harus dimatikan.

Mampukan Intel mengejar ketinggalan?

Kini Intel berusaha menyasar peralatan elektronik pintar ini dan mengeluarkan prosesor Oak Trail, yang diklaim akan merajai tablet dan smartphone seperti Intel merajai dunia PC.

Sayang Intel belum sejauh itu. Di Computex Taiwan kali ini, Intel membuat dirinya malu dengan memeragakan beberapa tablet. Orang awam yang tidak kenal dunia di luar PC dan Microsoft serta Intel tentu tidak akan merasa kejanggalan di sini. Mereka sudah terbiasa dengan PC yang lamban, program yang tidak gampang dipelajari (ingat saja Windows dan Microsoft Office).

Tetapi mereka yang sudah pernah memakai komputer buatan Apple atau peralatan pintar tablet dan smartphone yang dikeluarkan oleh Apple atau HTC dll. akan merasa seperti mundur ke belakang.

Seorang pembaca situs terkenal engadget.com, yang melihat video yang memeragakan tablet berprosesor terbaru dari Intel menulis, "Saya merasa sakit menonton video ini." Atau seorang pembaca lain, "Intel gagal" dan yang lain lagi, "Sejauh ini kelihatannya tidak bagus buat Intel..." Silakan melihat laporan engadget.com dan komentar pembaca lebih lanjut di sini: Intel shows off Oak Trail-based Android Honeycomb tablets, confirms Android Market support.

Masih adakah tempat bagi Intel?

Ya, saya rasa demikian. Mengapa? Karena masih banyak para pemakai PC yang hanya kenal jenis komputer seperti yang telah mereka pakai. Mendengar nama Intel dan Microsoft mereka akan merasa aman. Saya rasa hal ini terutama benar untuk para pemakai PC di Indonesia. Mereka tidak akan peduli pada teknologi yang lebih baik. Mereka akan lebih cenderung mengikuti arus massa. Yang lain pakai Microsoft Office, saya juga harus memakai yang sama. Yang lain membeli PC dengan prosesor Intel terbaru, saya juga, kendati mereka hanya memakai PC untuk browsing di Internet, membaca email dan menulis teks (dan kadang-kadang menonon film bajakan).

Saya ingat,jauh sebelum iPhone dan iPad dikeluarkan oleh Apple atau Android oleh Google, Microsoft telah berusaha bersarang di perangkat pintar. Saya ingat tahun 2003 saya membeli PDA Dell Axim X30 bersistem operasi Windows Mobile. Singkat kata, saya hanya memakainya sekali-sekali. Kebanyakan hanya untuk kalender dan buku alamat. Pada kenyataannya Microsoft hanya "mengadaptasi" Microsoft Windows ke perangkat kecil. Hal yang sama masih berlangsung sampai sekarang dengan memasang Windows ke perangkat tablet.

Tetapi mereka yang telah memakai tablet (iPad Apple atau tablet Android dari Samsung misalnya) serta handphone pintar (iPhone Apple atau Android dari HTC misalnya) akan merasa heran betapa tidak intuitifnya perangkat yang dilengkapi Microsoft Windows.

Namun kembali kepada "kebanyakan pemakai PC yang cenderung mengikuti arus massa. Pastilah mereka akan melirik Microsoft (dan Intel). Hanya pengguna, yang ingin memakai teknologi yang lebih baik, akan memilih perangkat dari Apple atau bersistem operasi Android.

Karena itu saya yakin Intel (dan Microsoft) pasti suatu hari akan berjaya, setidak-tidaknya di Indonesia.

Entri Populer

Kunci kesuksesan Caritas Sibolga

Lima tahun lalu, yakni pada tgl 26 Juli 2005 Caritas Keuskupan Sibolga meresmikan kantor darurat di Mudik, Gunungsitoli, dihadiri oleh berbagai perwakilan Caritas manca negara. Dengan hanya delapan karyawan dan lima relawan dari Universitas Atmajaya, Yogyakarta, pada awalnya Caritas Sibolga menggelar program yang jauh melampaui kemampuannya.

Pengalaman memakai Nexus One: Calendar, Contacts, Email

Kurang lebih setengah tahun saya memakai tiga smartphone terkemuka saat ini: Apple iPhone 3GS (iOS4), HTC Nexus One (Android), dan Nokia E72 (Symbian). Sayang Nokia E72 begitu ketinggalan jaman dibanding kedua smartphone lainnya dalam hal teknologi, sehingga saya selalu meninggalkannya di rumah, tersimpan rapi di dalam laci. Sedangkan Nexus One dan iPhone tetap menemaniku menjelajah berbagai dunia, baik dunia nyata maupun dunia maya. Bahkan seandainya Nexus One memiliki layar 7 inci dan resolusi 1024x768, maka hampir pasti juga laptop Asus UL20A saya akan menjadi korban, jarang disentuh.

Ubuntu Tip: Menjadikan Ubuntu Classic default

Dalam versi terbaru (11.10),  Ubuntu secara konsisten memakai Unity sebagai lingkungan desktop yang tampil di layar komputer. Dan yang membuat banyak pengguna Ubuntu geram, Ubuntu tidak menyediakan alternatif seperti pada versi sebelumnya. Selain itu kemungkinan untuk menyesuaikan setting Unity sangat terbatas, misalnya tak ada cara memperlangsing launcher bar, yang selalu tampil di pinggir layar sebelah kiri.


Mendengar Radio FM di Nexus One!

Kemungkinan besar Anda tidak tahu bahwa Anda bisa mendengar radio melalui Nexus One Anda. Saya tidak tahu entah Google telah tahu sejak awal dan telah mempersiapkannya. Tetapi HTC Nexus One, yang dikenal juga sebagai Google Phone, rupanya memiliki chip, yang memungkinkan untuk mengaktifkan radio FM. Tentu saja dalam sistem operasi standar yang dikeluarkan Google, kemampuan tsb. tidak aktif dan juga tak ditemukan aplikasi radio FM di antara berbagai aplikasi yang ada.

Kebenaran dan kejujuran tidak selalu mengenakkan

Tadi malam Br. Germanus Halawa tiba dari Gunung Sitoli. Kehadirannya otomatis mengingatkanku pada perpisahan yang unik tgl 1 April yang lalu. Maka waktu makan tadi malam mulailah kami menceritakan kembali kisah itu, yang aneh tapi nyata. P. Barnabas Winkler, satu-satunya senior di antara kami, mendengarkan kisah itu sambil senyum-senyum. Begitulah dia menghayati kebijaksanaannya.