Langsung ke konten utama

Memakai GNOME Classic Modus di Ubuntu 11.10


Banyak pengguna Ubuntu senior tidak menyukai tampil muka Ubuntu 11.10 yang memakai Unity. Kini ada solusi elegan, yakni dengan memakai Gnome Classic yang telah di-fork untuk Ubuntu 11.10. Di bawah ini saya tunjukkan langkah-langkah yang ditempuh untuk menginstalasi dan memakai Gnome Classic.

Dalam artikel ini saya mengusulkan untuk menginstalasi Ubuntu 11.04 dan pilih Ubuntu classic di kala login. Namun hal itu tidak perlu lagi.

Jason Conti telah mendengar keluhan banyak pengguna Ubuntu lain dan memodifikasi Gnonme fallback supaya bisa dipakai menjadi seperti Ubuntu Classic. Saya mendapatkan tip-nya dari Glasens Blog. Sayang blog tsb. berbahasa Jerman, jadi saya tampilkan saja di sini dengan melengkapi langkah-langkah yang mungkin belum diketahui oleh pengguna Ubuntu yunior.

Langkah menginstalasi Gnome Classic

1. Muat sumber software dengan mengetik perintah berikut di Terminal:
sudo add-apt-repository ppa:jconti/gnome3

2. Update database software dengan mengetik
sudo apt-get update

3. Instalasi software yang diperlukan dengan mengetik
sudo apt-get install indicator-applet-complete

4. Log out lalu log in dengan memilih Gnome Classic sebagai tampilan desktop. Akan nampak dua panel, satu di atas dan satu di bawah.

5. Klik di atas salah satu panel dengan tombol mouse kanan sambil menekan tombol Alt. Pilih New Panel (Buat pemula metode ini lebih gampang daripada memodifikasi panel yang sudah ada).

6. Klik di atas panel yang baru dengan tombol mouse kanan sambil menekan tombol Alt dan pilih Properties. Pilih Orientation: Top.

7. Klik di atas panel yang baru dengan tombol mouse kanan sambil menekan tombol Alt dan pilih Add to Panel

8. Tambahkan applet yang diingini. Saya memakai ini: 1) Indicator Applet Complete; 2) Menu Bar; dan 3) Window List

9. Kalau mau memindahkan salah applet caranya adalah dengan meletakkan cursor di atas applet lalu menekan tombol mouse kanan sambil menekan tombol Alt. Pilih Move untuk memindahkan.

10. Hapus panel yang tidak diinginkan dengan cara menekan tombol mouse kanan sambil menekan tombol Alt. Pilih Delete this Panel

Berikut adalah panel desktop saya. Selamat bereksperimen.



Thanks to Glasens Blog at http://www.glasen-hardt.de/?p=1415 for this great tip.

Entri Populer

Kunci kesuksesan Caritas Sibolga

Lima tahun lalu, yakni pada tgl 26 Juli 2005 Caritas Keuskupan Sibolga meresmikan kantor darurat di Mudik, Gunungsitoli, dihadiri oleh berbagai perwakilan Caritas manca negara. Dengan hanya delapan karyawan dan lima relawan dari Universitas Atmajaya, Yogyakarta, pada awalnya Caritas Sibolga menggelar program yang jauh melampaui kemampuannya.

Pengalaman memakai Nexus One: Calendar, Contacts, Email

Kurang lebih setengah tahun saya memakai tiga smartphone terkemuka saat ini: Apple iPhone 3GS (iOS4), HTC Nexus One (Android), dan Nokia E72 (Symbian). Sayang Nokia E72 begitu ketinggalan jaman dibanding kedua smartphone lainnya dalam hal teknologi, sehingga saya selalu meninggalkannya di rumah, tersimpan rapi di dalam laci. Sedangkan Nexus One dan iPhone tetap menemaniku menjelajah berbagai dunia, baik dunia nyata maupun dunia maya. Bahkan seandainya Nexus One memiliki layar 7 inci dan resolusi 1024x768, maka hampir pasti juga laptop Asus UL20A saya akan menjadi korban, jarang disentuh.

Ubuntu Tip: Menjadikan Ubuntu Classic default

Dalam versi terbaru (11.10),  Ubuntu secara konsisten memakai Unity sebagai lingkungan desktop yang tampil di layar komputer. Dan yang membuat banyak pengguna Ubuntu geram, Ubuntu tidak menyediakan alternatif seperti pada versi sebelumnya. Selain itu kemungkinan untuk menyesuaikan setting Unity sangat terbatas, misalnya tak ada cara memperlangsing launcher bar, yang selalu tampil di pinggir layar sebelah kiri.


Mendengar Radio FM di Nexus One!

Kemungkinan besar Anda tidak tahu bahwa Anda bisa mendengar radio melalui Nexus One Anda. Saya tidak tahu entah Google telah tahu sejak awal dan telah mempersiapkannya. Tetapi HTC Nexus One, yang dikenal juga sebagai Google Phone, rupanya memiliki chip, yang memungkinkan untuk mengaktifkan radio FM. Tentu saja dalam sistem operasi standar yang dikeluarkan Google, kemampuan tsb. tidak aktif dan juga tak ditemukan aplikasi radio FM di antara berbagai aplikasi yang ada.

Kebenaran dan kejujuran tidak selalu mengenakkan

Tadi malam Br. Germanus Halawa tiba dari Gunung Sitoli. Kehadirannya otomatis mengingatkanku pada perpisahan yang unik tgl 1 April yang lalu. Maka waktu makan tadi malam mulailah kami menceritakan kembali kisah itu, yang aneh tapi nyata. P. Barnabas Winkler, satu-satunya senior di antara kami, mendengarkan kisah itu sambil senyum-senyum. Begitulah dia menghayati kebijaksanaannya.