Minggu, 12 Juni 2011

Tablet mana bisa jadi calon pengganti Galaxy Tab?


Saya membeli Galaxy Tab pada bulan November 2010 lalu. Kendati disainnya saya suka, ketika pertama kali memakainya Galaxy Tab mengecewakan saya. Mengapa? Android 2.2 yang dibesut Samsung dalam Galaxy Tab itu agak lamban. Terutama untuk browsing website, Galaxy Tab menguji kesabaran saya. Karena itu saya memberanikan diri me-root Galaxy Tab tsb. dan menginstalasi ROM modifikasi Modaco, yang saya dapat dari forum XDA.


Setelah itu saya mulai menikmati bermain dengan Galaxy Tab. Browsing menjadi lebih menyenangkan dan terutama saya senang dengan ukurannya yang kecil (7 inci) dan ringan (380 gram). Ukuran dan berat semacam itu sangat ideal untuk dipakai sambil tidur-tiduran di sofa atau membaca-baca di tempat tidur sebelum mata terpejam. Galaxy Tab hampir selalu menemaniku di sofa, di tempat tidur, di kebun, di perpustakaan, di kereta api dan di mana saja. Laptop Asus UL20A hanya saya pakai untuk mengolah teks panjang atau membuka situs-situs yang sulit dirambah di tablet berlayar kecil 7 inci. Selebihnya Galaxy Tab mengambilalih berbagai fungsi: mulai dari memutar musik, baca buku, browsing, baca email, facebook-an dan twitter-an, nonton video film, bertelepon via voip, dlsb.

Kendati demikian saya belum puas juga dengan Galaxy Tab ini (habis, selalu maunya lebih). Kendati browsing dengan browser built-in sudah agak kencang, saya lebih suka memakai Skyfire, yang jauh lebih ringan dan kencang dalam hal browsing. Namaun yang paling mengganggu saya adalah soal menulis teks panjang. Selain program pengolah kata yang saya pakai lamban bereaksi, fungsi sederhana seperti copy dan paste pun tidak ada. Saya berkeinginan bisa menulis atau mengedit laporan di Galaxy Tab di kala dalam kereta api atau misalnya di kala duduk-duduk menikmati kopi di Cafe.

Namun ada keuntungan memakai perangkat berbasis Android. Di luar sana ada banyak programmer yang tak kenal lelah memperbaiki sistem operasi Android ini, sehingga pengguna semakin lama semakin nyaman memakai istem operasi ini.

Belum lama ini para hacker di xda-developers berhasil memaketkan ROM versi Gingerbread untuk Galaxy Tab. Salah satunya adalah ROM besutan alterbridge86 yang diberi nama ROM Overcome. Saya pun langsung menyambarnya dan meng-upgrade Galaxy Tab saya. Dan memang terasa ada peningkatan dalam hal performance. Bukan hanya browser Android menjadi lebih kencang dan mulus, menulis teks juga lebih menyenangkan, karena fungsi copy dan paste sudah memungkinkan.

Namun kembali ke pertanyaan awal, tablet apakah yang bisa menjadi pengganti Galaxy Tab, bila suatu saat nanti saya mencari "yang lain"?

Saya telah mencoba berbagai tablet terbaru di beberapa toko: mulai dari Motorola Xoom, Acer Iconia A500, Advent Vega, Asus Transformer, HTC Flyer dan LG Optimus Pad sampai ke Apple iPad 2. Terus terang saja, setelah membanding-bandingkan, saya rasa saya tidak akan "membuang" Galaxy Tab saya. Ukuran tsb. memang sangat pas untuk saya. Paling-paling HTC Flyer, yang juga berlayar 7 inci, bisa menjadi pengganti, namun harganya yang mahal akan menjadi penghalang utama.

Jadi memang tak ada pengganti Galaxy Tab? Ya, saya akan mempertahankannya! Namun suatu hari nanti saya akan membeli tablet baru berlayar 10 inci, bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai alternatif untuk dipakai di rumah. Di layar 10" mem-browsing website versi desktop terasa lebih nyaman. Apalagi masih banyak situs, yang belum menyediakan versi mobile dari website mereka. Kalau tiba saatnya nanti untuk membeli tablet baru, maka Samsung Galaxy Tab 10" adalah calon pertama. Mengapa? Karena dialah tablet terringan saat ini. Tablet yang akan agak berat cenderung melelahkan tangan kalau dipakai berlama-lama.

Namun saya masih belum terburu-buru mencari tablet baru. Soalnya, Galaxy Tab 10" masih belum mengimplementasikan koneksi USB host, jadi belum memungkinkan misalnya mencolokkan harddisk eksternal atau perangkat USB lainnya ke tablet tsb. Demikian juga colokan charger-nya masih pakai kabel khusus. Saya harap dalam waktu mendatang ini akan keluar sebuah tablet, yang memenuhi keinginan saya, yakni ringan seperti Galaxy Tab 10", punya fungsi USB host dan untuk men-charge pakai koneksi USB biasa.


Catatan untuk mereka yang tidak akrab dengan dunia Android:

Stok Android memang dikeluarkan oleh Google, namun setiap produsen seperti HTC, Samsung dst. bebas memodifikasi sistem operasi ini. HTC misalnya memodifikasi stok Android dan menyesuaikannya dengan Sense UI. Dalam hal ini HTC cukup berhasil. Pengguna smartphone dan tablet produksi HTC tak akan lelah memuji kemulusan dan keindahan Sense UI di perangkat mereka. Sebaliknya Samsung nampaknya kurang beruntung. TouchWiz yang diimplementasikan dalam stok Android tidak begitu menjanjikan. Galaxy Tab, yang dilengkapi dengan Android 2.2 kompilasi Samsung, boleh dikatakan gagal, dengan alasan seperti saya sebut di atas (bisa jadi Galaxy Tab yang dikeluarkan kemudian lebih baik dari keluaran pertama).

Mengapa demikian? Android adalah sistem operasi terbuka. Setiap orang bebas untuk memodifikasinya. Modifikasi kecil-kecilan pastilah sangat menguntungkan dan tidak terlalu mengganggu. Namun modifikasi yang terlalu jauh bisa menjadi kerugian dalam hal update. Tak heran bila Google telah mengeluarkan update terbaru, tetapi perangkat tertentu tidak bisa di-update, karena menunggu sampai produsen perangkat tsb. mengeluarkan update yang telah disesuaikan. Dan dalam hal ini Samsung terkenal tidak begitu gesit mengeluarkan update.

Saya sendiri belum merasa nyaman memakai Android entah itu hasil modifikasi Samsung atau HTC. Kalau harus memilihi, saya masih lebih cenderung memakai Android asli keluaran Google.

Saat ini saya memakai Android hasil modifikasi CyanogenMod di Nexus One dan Overcome Gold di Galaxy Tab. Saya harap bahwa dalam waktu dekat CyanogenMod juga mengeluarkan ROM untuk Galaxy Tab.

Tidak ada komentar: