Langsung ke konten utama

Multimedia player canggih yang bisa menari lintas panggung

Sudah lama saya mencari multimedia player yang memadukan keindahan tampilan dan kekayaan fitur. Maklum selera saya memang tidak sembarang.

Pencarian itu akhirnya berakhir. Nama aplikasi tersebut adalah Miro. Ini baru namanya multimedia player canggih. Entah di PC dengan sistem operasi Windows, Mac, atau Linux (saya memakai Ubuntu) atau di tablet dan smartphone pintar kayak Android atau iPhone, Miro bisa berenang bebas.

Tetapi itu baru salah satu kehebatan Miro. Tampilannya memberi kesan anggun dan artistik (lihat beberapa screenshots dalam artikel ini, selebihnya bisa dilihat di website Miro). Memang agak mengingatkan kita akan tampilan grafis di Apple Mac, tetapi tampilannya di Ubuntu 11.04 sedemikian terintegrasi, sehingga tidak memberi kesan seolah Miro datang dari dunia lain. Bagi mereka yang tak berkeinginan mencoba Miro, bisa melihat screenshots di website Miro.


Namun yang berikut fitur mematikan milik Miro, yang menjadi favorit saya:

  • Miro bisa berbagi video dan musik dengan perangkat lain (lihat screenshot di bawah).
  • Miro bisa mengonversi file video dan musik ke berbagai format perangkat lain (lihat screenshot di bawah). Lihat daftar perangkat standar yang sudah tersedia pada instalasi standar. Panjang khan? Entah itu Android, iPod, iPhone, iPad atau pemutar MP3 dan MP4, semua dilayani oleh Miro. Canggih khan?
  • Miro memungkinkan untuk mengedit file multimedia, bukan hanya satu persatu, melainkan bisa juga banyak file sekaligus (lihat screenshot di bawah). Apa nggak canggih?
  • Miro bisa mengintegrasikan berbagai sumber multimedia online seperti YouTube, PBS, dst  (lihat screenshot di atas).
  • Miro bisa belanja musik online langsung dari Amazon atau sumber lain (lihat screenshot di atas).


Dengan berbagai kemudahan di atas saya hanya bisa mengatakan Miro adalah aplikasi multimedia tercanggih saat ini. Silakan berkunjung ke situs Miro di http://www.getmiro.com Selamat menikmati musik seperti saya yang sedang mendengar Iwan Fals menyanyikan lagu "1001 Jalan" sambil menulis artikel ini.




Entri Populer

Kunci kesuksesan Caritas Sibolga

Lima tahun lalu, yakni pada tgl 26 Juli 2005 Caritas Keuskupan Sibolga meresmikan kantor darurat di Mudik, Gunungsitoli, dihadiri oleh berbagai perwakilan Caritas manca negara. Dengan hanya delapan karyawan dan lima relawan dari Universitas Atmajaya, Yogyakarta, pada awalnya Caritas Sibolga menggelar program yang jauh melampaui kemampuannya.

Pengalaman memakai Nexus One: Calendar, Contacts, Email

Kurang lebih setengah tahun saya memakai tiga smartphone terkemuka saat ini: Apple iPhone 3GS (iOS4), HTC Nexus One (Android), dan Nokia E72 (Symbian). Sayang Nokia E72 begitu ketinggalan jaman dibanding kedua smartphone lainnya dalam hal teknologi, sehingga saya selalu meninggalkannya di rumah, tersimpan rapi di dalam laci. Sedangkan Nexus One dan iPhone tetap menemaniku menjelajah berbagai dunia, baik dunia nyata maupun dunia maya. Bahkan seandainya Nexus One memiliki layar 7 inci dan resolusi 1024x768, maka hampir pasti juga laptop Asus UL20A saya akan menjadi korban, jarang disentuh.

Ubuntu Tip: Menjadikan Ubuntu Classic default

Dalam versi terbaru (11.10),  Ubuntu secara konsisten memakai Unity sebagai lingkungan desktop yang tampil di layar komputer. Dan yang membuat banyak pengguna Ubuntu geram, Ubuntu tidak menyediakan alternatif seperti pada versi sebelumnya. Selain itu kemungkinan untuk menyesuaikan setting Unity sangat terbatas, misalnya tak ada cara memperlangsing launcher bar, yang selalu tampil di pinggir layar sebelah kiri.


Mendengar Radio FM di Nexus One!

Kemungkinan besar Anda tidak tahu bahwa Anda bisa mendengar radio melalui Nexus One Anda. Saya tidak tahu entah Google telah tahu sejak awal dan telah mempersiapkannya. Tetapi HTC Nexus One, yang dikenal juga sebagai Google Phone, rupanya memiliki chip, yang memungkinkan untuk mengaktifkan radio FM. Tentu saja dalam sistem operasi standar yang dikeluarkan Google, kemampuan tsb. tidak aktif dan juga tak ditemukan aplikasi radio FM di antara berbagai aplikasi yang ada.

Kebenaran dan kejujuran tidak selalu mengenakkan

Tadi malam Br. Germanus Halawa tiba dari Gunung Sitoli. Kehadirannya otomatis mengingatkanku pada perpisahan yang unik tgl 1 April yang lalu. Maka waktu makan tadi malam mulailah kami menceritakan kembali kisah itu, yang aneh tapi nyata. P. Barnabas Winkler, satu-satunya senior di antara kami, mendengarkan kisah itu sambil senyum-senyum. Begitulah dia menghayati kebijaksanaannya.