Langsung ke konten utama

Google dan gerakan memanusiawikan dunia

Google adalah perusahaan profit, tetapi perusahaan pencari ini sangat berbeda dari perusahaan lainnya. Bahkan dibandingkan dengan perusahaan lainnya, Google mungkin bisa digolongkan ke perusahaan non-profit, yang justru karena itu mendapat profit luar biasa besar. Karena itu kita berharap supaya Google sukses, karena kehadirannya akan membantu memoles dunia kita menjadi tetap dan lebih manusiawi. Mengapa?

Dunia kita tak pelak lagi dicakram oleh kepentingan bisnis. Dan kepentingan bisnis tsb., yang sering tidak manusiawi, malah dilindungi secara undang-undang, sehingga publik menganggapnya sah, legal. Kita ambil satu contoh perusahaan yang begitu "tidak manusiawi" mencengkram ekonomi banyak negara, tetapi dianggap normal karena telah dilindungi secara hukum adalah Microsoft. Tak heran, pendirinya Bill Gates menjadi orang terkaya sejagat beberapa waktu lalu.

Untuk melihat betapa "tidak manusiawi" praktek Microsoft dan banyak perusahaan lainnya, kita lihat contoh. Bayangkan Anda membeli buku. Sesampai di rumah Anda bisa membacanya, lalu anak Anda dan orang lain juga. Anda tidak perlu membayar lagi kepada penerbit untuk setiap pembaca buku tsb. Anda juga tidak akan dianggap melanggar hak cipta bila Anda menjual buku tsb. ke toko second hand. Atau contoh lain: Anda membeli pisau. Isteri dan anak Anda, bahkan tetangga pun bisa memakai pisau tsb. tanpa harus membayar lagi kepada perusahaan produsen pisau tsb. Demikian bila Anda membeli sepeda motor atau kulkasdlsb. Anggota keluarga Anda bisa memakainya dan Anda tetap tidak dianggap melanggar hukum bila Anda memberinya kepada kerabat atau teman Anda untuk dipakai.

Tetapi dengan program dari Microsoft Anda tidak diizinkan memakaikan Windows atau MS Office Anda kepada anggota keluarga apalagi kepada orang lain. Apalagi bila Anda menginstalasi software tsb. di PC atau laptop orang lain. Untuk setiap pemakai lain dan untuk setiap PC dan laptop Anda harus membayar lisensi kepada Microsoft. Microsoft telah melindungi haknya untuk itu, sehingga bila Anda melakukannya Anda dianggap melanggar hukum.

Karena kepentingan bisnis "tak manusiawi" ini telah dilindungi secara hukum, maka kita merasa bahwa secara legal Microsoft berhak menuntut lisensi seperti itu. Kalau sekarang Bill Gates menyumbang 20 juta Dollar untuk pendidikan, apa artinya itu? Sementara di masa lalu dan sampai sekarang banyak negara miskin menghabiskan dana bermilyar rupiah hanya untuk membayar lisensi software Microsoft dan software lainnya, tetapi tak ada uang untuk menyediakan kesejahteraan paling dasar sekali pun bagi rakyatnya yang miskin.

Seperti saya tulis di atas Microsoft hanyalah salah satu contoh. Tetapi banyak perusahaan lain yang mempunyai kepentingan "tak manusiawi", tetapi dianggap normal, karena kepentingan tsb. telah dilindungi secara hukum. Tentu saja para ahli hukum selalu bisa mencari alasan yang mendukung dan mensahkan hukum perlindungan hak tsb., yang tidak manusiawi, tetapi yang pada saat yang sama (syukurlah) tidak berlaku bagi pisau, mobil, buku, dlsb. yang Anda beli dan miliki juga.

Di tengah dunia semacam itu Google menjadi tampil sangat berbeda. Dipandang dari perspektif Microsoft, Apple, dlsb. praktek Google menggratiskan hasil keringatnya dianggap gila alias sungguh tidak masuk akal. Entah peta (Google Maps), simulasi bola dunia (Google Earth), sistem operasi Android dan Chrome, layanan penerjemahan (Google Translate), layanan email (Gmail), kalender dan buku alamat, semua digratiskan untuk kepentingan publik. Program-program ini dan banyak layanan lainnya seperti blogger, youtube dst. disediakan oleh Google demi kesejahteraan bersama. Coba bayangkan berapa banyak dana yang dihemat baik oleh pribadi, maupun negara, institusi dan perusahaan, karena memakai jasa Google.

Sejak tahun-tahun terakhir Google mendukung gerakan open source, yang memungkinkan setiap orang untuk melihat kode dan mengkompilasi sendiri software. Bahkan untuk software Android, Google menyediakan satu alat pemograman (App Inventor) untuk mereka yang sama sekali buta dengan pemograman, supaya bisa menciptakan programnya sendiri. Hebat bukan?

Tetapi yang lebih penting di belakang semua itu adalah kepentingan manusia. Manusia mempunyai hak untuk memperoleh pengetahuan dan karena itu seharusnya mempunyai akses terhadap pengetahuan. Sejak bertahun-tahun gerakan software bebas berjuang untuk menyadarkan kita bahwa di tengah segala aktifitas dunia ini manusialah pusat dan bukan kepentingan bisnis. Coba bayangkan perlindungan hak paten/cipta, yang mengikat orang dengan program tertentu, sehingga pada akhirnya tidak berdaya. Sekarang banyak kantor pemerintah, sekolah, institusi dlsb. susah bermigrasi dari software tertentu, karena mereka sudah terikat lisensi, karyawan sudah terbiasa, dan sudah terlanjur percaya, seolah dunia ini hanya diwarnai oleh Windows dan Office dari Microsoft.

Tetapi syukurlah bahwa di tengah dunia yang "tidak manusiawi" itu, ada banyak orang yang berjuang menjadikan dunia kita "manusiawi" dan melepaskan diri dari cengkraman kepentingan bisnis perusahaan tertentu. Kalau ada orang pribadi mau mengikat diri dengan perusahaan tertentu, ini bukan masalah. Tetapi kalau institusi umum yang melayani kepentingan publik, apalagi melayani kepentingan mereka yang paling lemah dalam masyarakat, juga dicengkram oleh kepentingan perusahaan-perusahaan tertentu, maka yang dirugikan adalah manusia sendiri. Syukurlah bahwa semakin banyak pemerintah kota di dunia ini yang menerapkan pemakaian program bebas seperti Linux dan OpenOffice (sekarang berganti nama menjadi LibreOffice), yang saat ini sedemikian telah dikembangkan, bahwa dalam banyak segi lebih gampang dan lebih baik daripada Windows dan Office dari Microsoft. Lain kali kita akan melihat gerakan mendunia yang memanusiakan manusia melalui layanan-layanan umum ini.

Kembali ke awal tulisan ini. Google jelas adalah perusahaan profit. Tetapi perusahaan ini menyediakan sedemikian banyak layanan gratis kepada umum, yang bernilai milyaran, dan karena itu bertindak seolah ia perusahaan non-profit. Dan selama Google sukses, selama dunia kita akan tetap dapat menikmati berbagai layanan gratis Google, yang membantu jutaan orang di dunia kita, terutama mereka yang ekonominya lemah, maka dunia kita tetap manusiawi. Karena itu kita harus mendukung Google dan mengucapkan selamat bahwa kali ini Google meningkatkan pendapatannya dari pemasangan iklan seperti diberitakan oleh BBC: BBC News - Google's profits lifted by higher advertising revenues.

Entri Populer

Kunci kesuksesan Caritas Sibolga

Lima tahun lalu, yakni pada tgl 26 Juli 2005 Caritas Keuskupan Sibolga meresmikan kantor darurat di Mudik, Gunungsitoli, dihadiri oleh berbagai perwakilan Caritas manca negara. Dengan hanya delapan karyawan dan lima relawan dari Universitas Atmajaya, Yogyakarta, pada awalnya Caritas Sibolga menggelar program yang jauh melampaui kemampuannya.

Pengalaman memakai Nexus One: Calendar, Contacts, Email

Kurang lebih setengah tahun saya memakai tiga smartphone terkemuka saat ini: Apple iPhone 3GS (iOS4), HTC Nexus One (Android), dan Nokia E72 (Symbian). Sayang Nokia E72 begitu ketinggalan jaman dibanding kedua smartphone lainnya dalam hal teknologi, sehingga saya selalu meninggalkannya di rumah, tersimpan rapi di dalam laci. Sedangkan Nexus One dan iPhone tetap menemaniku menjelajah berbagai dunia, baik dunia nyata maupun dunia maya. Bahkan seandainya Nexus One memiliki layar 7 inci dan resolusi 1024x768, maka hampir pasti juga laptop Asus UL20A saya akan menjadi korban, jarang disentuh.

Ubuntu Tip: Menjadikan Ubuntu Classic default

Dalam versi terbaru (11.10),  Ubuntu secara konsisten memakai Unity sebagai lingkungan desktop yang tampil di layar komputer. Dan yang membuat banyak pengguna Ubuntu geram, Ubuntu tidak menyediakan alternatif seperti pada versi sebelumnya. Selain itu kemungkinan untuk menyesuaikan setting Unity sangat terbatas, misalnya tak ada cara memperlangsing launcher bar, yang selalu tampil di pinggir layar sebelah kiri.


Mendengar Radio FM di Nexus One!

Kemungkinan besar Anda tidak tahu bahwa Anda bisa mendengar radio melalui Nexus One Anda. Saya tidak tahu entah Google telah tahu sejak awal dan telah mempersiapkannya. Tetapi HTC Nexus One, yang dikenal juga sebagai Google Phone, rupanya memiliki chip, yang memungkinkan untuk mengaktifkan radio FM. Tentu saja dalam sistem operasi standar yang dikeluarkan Google, kemampuan tsb. tidak aktif dan juga tak ditemukan aplikasi radio FM di antara berbagai aplikasi yang ada.

Kebenaran dan kejujuran tidak selalu mengenakkan

Tadi malam Br. Germanus Halawa tiba dari Gunung Sitoli. Kehadirannya otomatis mengingatkanku pada perpisahan yang unik tgl 1 April yang lalu. Maka waktu makan tadi malam mulailah kami menceritakan kembali kisah itu, yang aneh tapi nyata. P. Barnabas Winkler, satu-satunya senior di antara kami, mendengarkan kisah itu sambil senyum-senyum. Begitulah dia menghayati kebijaksanaannya.